VIEW GALLERY

All DAP

”Mendaki” Menengok Keegoisan Diri

Oleh : P.6.21.278

Pendakian gunung-gunung tertinggi diseluruh penjuru dunia telah menjadi sesuatu trend bagi para para petualang, mereka juga menjelajah alam, hutan rimba, karang terjal, tebing-tebing curam, sungai deras.

Para tokoh-tokoh pendaki gunung, team-team ekspedisi yang tangguh mereka telah menorehkan beberapa sasaran-sasaran tinggi untuk hidupnnya, menjadi prestasi dan menjadi sejarah. Banyak hal yang mereka cari, para pendaki mempunyai tujuan-tujuan tersendiri dalam mendaki gunung, seperti dikatakan pendaki gunung senior G.Mallory yang merasa bingung atas pertanyaan kenapa anda mendaki gunung? Dan dia menjawab “ because is there” atau karena ada gunung maka saya mendaki. Terlepas dari semuanya, apapun tujuannya,mendaki membawa kita berada disebuah tempat yang sangat tinggi, menguratkan lipatan-lipatan terjal, mewadahi semua kekejaman alam, keras dan buas. Tempat yang indah dan menyenangkan, terhampar segudang kesejukan, damai melihat hamparan awan dan bebrapa petak hamparan bumi dari atapnya.

Ketika kita akan menuju tempat tertinggi itu kita akan menyiapkan semua hal, mulai dari fisik yang sehat, mental yang kuat dan perlengkapan untuk pendakian. Untuk fisik kita akan berusaha berlatih untuk mencapai kebugaran maksimal, melakukan jogging, fitness, berenang dan sebagianya semua itu kita lakukan demi tercapainya kebugaran jasmani dan secara sederhana dapat meningkatkan mental kita dalam pendakian. “didalam jiwa yang kuat terdapat jiwa yang sehat” Mungkin ungkapan itu masih dapat diterima. Perlengkapan mungkin dapat mudah kita cari dari pada menyiapkan fisik dan mental kita.

Ketika persiapan sudah terpenuhi maka kita akan berangkat menuju gunung tersebut karena dia ada disana, ketika berangkat usahakan dengan tim minimal dengan tiga orang, agar kita ketika kita mendaki, ketika sebuah team sedang mendaki, kita dapat melihat kekuatan dan kelemahan masing-masing, kita dapat mengerti arti setiap sifat seseorang ketika kita berada disana. Ketika kita kehausan apakah kita akan mendapat setets airnya, ketika kita terjatuh apakah kita akan mendapatkan sedikit genggamannya, ketika sakit apakah kita ada sedikit perhatiannya. Ada sesuatu yang kita lupakan tentang hal-hal itu tentang kesadaran akan keegoisan diri tentang diri kita sendiri, dan orang lain.

Ketika kita mendaki kita akan merasa lelah dan susah dengan jalur yang kita lewati, ke egoisan diri pun muncul kita biasanya sibuk hanya dengan mengurus diri sendiri, namun semuanya wajar, begitu juga dengan mereka karena kita sudah melakukan persiapan fisik metal dan perlengkapan secara bersama-sama. Tapi kita terkadang kurang memperhatikan orang lain apakah mereka baik-baik saja? Karena kita manusia-semua hal bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kita terlalu lelah dengan kondisi ini sehingga kita tak sanggup untuk menggenggam tangan teman yang terpeleset jatuh, memberikan setetes air kepada teman kita yang sedang kehausan karena mungkin kita juga susah untuk meraih air didalam kantong, atau pegangan kita sedang sibuk menahan dari semak-semak yang mengganggu pemandangan atau menggapai akar.

Coba tenggok apa pendapat teman-teman kita, siapa yang kuat siapa yang lemah siapa yang bodoh? Coba tengok sejenak kebelakang, keteman-teman kita yang mungkin perlu uluran tangan, coba tengok sejenak sifat kita tentang keegoisan diri yang terluap dari ke tidaksadaran akan makna “mendaki”.

Kita tidak perlu merubah mereka karena mungkin mereka belum mengetahuinya, kita beruntung dapat mengetahui sisi buruk kita, kita hanya perlu merubah sedikit tentang keadaan yang tegang ini, ketegangan dari dinding ruang pembatas atas sebuah rasa terhadap sesama pendaki. “dimanakah rasa sisi kemanusiaanmu saat melihat pendaki yang sedang sekarat ditinggal begitu saja ditas puncak kematian”.

Ketika salah satu pendaki ternama dunia Robb Hall memutuskan untuk kembali ke puncak kematian di gunung everest untuk menyelamatkan seorang kliennya itu merupakan sesuatu keputusan yang kontoversional, dan akhirnya Robb Hall meningal bersama dengan kliennya di atas sana. Apa makna yang dapat kita ambil atas pelajaran dari kejadian tersebut, sebuah sisi kepedulian yang tergerak atas dasar kemanusiaan. Sekalipun tidak berhasil setidaknya jiwa besar terhadap kemanusiaannya akan terkenang.

Sekarang dimanakah kepedulian kita, apakah kita akan terus melihath lurus kedepan melihat jalur pendakian tanpa menengok sedikit kabar tentang shabat kita, aku harap tengoklah sedikit kebelakang tentang keeogoisan diri yang telah terbuka sekarang. Mendaki gunung bagaikan mendaki kehidupan, adakalanya kita lurus, menanjak turun dan mencapai puncak kesuksesan…