VIEW GALLERY

All DAP

Menelusuri Keindahan Gua Cikaracak

Oleh: P.6.31.392

Kegiatan di alam bebas semakin berkembang. Mendaki gunung sudah sangat dikenal, memanjat tebing terjal, bahkan menginjak puncak gunung es atau salju kini bukan lagi merupakan suatu impian. Ada satu kegiatan lain di alam bebas yang mulai berkembang, yaitu susur Gua. Gua ialah suatu lorong bentukan alamiah di bawah tanah yang mampu dilalui oleh manusia. Susur gua atau jelajah gua (caving) adalah olahraga rekreasi menjelajahi gua.

Sabtu, 7 Oktober 2017 ketika sinar mentari memancarkan sinarnya dengan elok pertanda pagi hari datang dan malam hari pergi untuk sementara. Kami Anggota Muda Pamor XXXI akan melakukan perjalanan caving ke Gua Cikaracak yang terletak di daerah Cipatat, Padalarang, Jawa Barat. Tujuannya yaitu melaksanakan kewajiban kami sebagai Anggota Muda yaitu mabim atau dikenal dengan nama Young Journey. Ini merupakan pengalaman pertama kami menyusuri gua dan akan dijadikan suatu pembelajaran yang berharga bagi kehidupan kami.

Salah satu gua yang terdapat di wilayah Cipatat adalah Gua Cikaracak. Bagi masyarakat tataran sunda tentu sudah tidak asing dengan kata 'Cikaracak'. Ada pribahasa sunda terkenal 'Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok', yang jika didefinisikan berarti 'tetesan air menimpa batu pelan-pelan menjadi lubang'. Dalam kenyataannya memang suatu kebenaran jika tetesan air ini mengakibatkan lubang pada suatu batu yang keras sekalipun. Gua yang terbentuk dari hasil desakan air menjadi sebuah gua yang sampai saat ini selalu meneteskan air melalui tembok dan ornamen gua ini. Gua Cikaracak merupakan gua horizontal yang di dalamnya masih memiliki beberapa ornamen indah yang hingga saat ini masih hidup (ornamen hidup). Keindahan gua cikaracak dari dalam bagaikan surga yang tersembunyi di perut bumi. Suguhan keindahan tersebut bisa dinikmati kapan saja, baik siang maupun malam hari.

Di dalam gua kami menemukan ornamen-ornamen cantik seperti Stalaktit dan juga stalagmit. Tak hanya itu kami juga menemukan binatang-binatang di dalam gua seperti kelalawar, laba-laba, semut, jangkrik, kecoa dan cacing. Mereka ditemukan di berbagai sudut gua dari lantai gua yang lembab dan basah, dinding gua yang kecoklatan dan basah atau langit-langit gua yang kadang sulit dilihat karena tinggi sehingga tidak dapat diamati. Binatang-binatang ini hidup dalam kegelapan dan melanjutkan keturununannya dengan cara-cara yang unik. Kondisi lingkungan gua yang gelap mampu mereka atasi dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Karena kondisi yang gelap abadi, binatang gua tidak memerlukan mata untuk melihat lingkungan atau bahkan menemukan pasangannya. Sehingga, terkadang ditemukan binatang gua tidak mempunyai mata sama sekali atau matanya mengecil.

Ada hal menarik yang kami alami yaitu berada di zona gelap total (abadi) dimana pada saat itu tidak ada secuil cahaya pun yang terlihat, yang ada hanyalah hitam pekat dan tak terlihat apapun. Zona ini biasanya terdapat pada sebuah ruangan yang lorongnya sempit dan berkelok‐kelok. Ketika headlamp yang kami gunakan dimatikan untuk sesaat, disitu kami merasakan seperti berada di dalam alam kubur, karena gelap abadi dan sunyi sepi. Dari situ kami ingat akan sebuah kematian dan seolah menampar kami bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan di akhiratlah yang abadi. Pelajaran yang kami dapat dari perjalanan caving kali ini yaitu kami belajar untuk menghargai alam, menghargai sesama makhluk hidup dan yang terpenting kita harus selalu menjaga keindahan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Terakhir pesan dari kami yaitu lakukanlah banyak perjalanan! Maka kau akan temukan puzzle-puzzle kehidupan, susunlah puzzle tersebut agar kau mengerti cara untuk hidup.

Salam Lestari!