VIEW GALLERY

Back

14Peaks

THE POWER OF DREEM

Setiap kesuksesan merupakan akumulasi dari sebuah rangkaian kesuksesan-kesuksesan kecil yang tersusun, berawal dari sebuah mimpi untuk bisa melakukan sebuah perjalanan dan beraktifitas di alam terbuka, dengan hasrat untuk melakukan penjelajahan yang sangat tinggi untuk menambah pengalaman di dunia kepecintaalaman. “if your dream do not scare you, they are not big enough.” (Ellen Johnson Sirleaf). Kami selalu mencoba untuk bisa melakukan hal-hal kecil, seperti mendaki gunung-gunung, memanjat tebing, menyusuri pantai sampai berarung jeram. Waktu itu kami selalu mencoba aktif akan kegiatan alam terbuka, apapun kegiatannya selalu kami coba untuk terlibat. Memang berat karena di balik itu kami harus bisa menyeimbangkan antara berkegiatan dengan jadwal perkuliahan.

Berawal dari sebuah undangan pada tahun 2004 ke organisasi dari salah satu perkumpulan untuk ikut serta dalam latihan bersama Arung Jeram yang diadakan di sungai Citarum Bandung, Adi dan Ganjar (pendaki maraton 14 puncak tahun 2007 dan 2008) ikut dalam kegiatan tersebut dan bertemu dengan seorang pendaki berpengalaman. Secara fisik beliau tidak mencirikan seorang pendaki, namun ternyata pengalamannya menjelajah alam bumi pertiwi tidak bisa disangsikan lagi. Pada satu kesempatan di malam itu, kita berbincang panjang lebar di sebuah Mushola kecil di sekitar Citarum. Beliau tampaknya menangkap semangat kami yang menggebu, lalu mengingatkan bahwa, “Kalau hanya untuk mendaki Rinjani itu gampang, cobalah buat sesuatu yang berbeda dalam pendakian. Pegunungan di Indonesia ini cukup banyak, bukan hanya Rinjani. Banyak gunung di Jawa, Bali, Lombok, sampai Sumbawa.”

Sepulang dari kegiatan itu, tidak dipungkiri ada kegelisahan dalam hati, rasanya ingin cepat-cepat melakukan pendakian ke Rinjani. Entah kenapa terpikir rencana untuk melakukan sebuah ekspedisi yang melibatkan PAMOR. Rekan-rekan organisasi malah menyambutnya dengan lebih antusias lagi, tidak mau hanya mendaki Rinjani melainkan juga pegunungan-pegunungan lainnya di Jawa, Bali, Lombok, hingga Sumbawa. Dan tercetuslah TRIAS (Tambora, Rinjani, Agung, Semeru) di bulan agustus tahun 2005 dengan sembilan anggota berangkat melakukan ekspedisi.

Keberhasilan ekspedisi TRIAS berimbas lain, kang Salmon Firaqi atau akrab disapa Ua Salmon berpendapat bahwa itu bukan kesuksesan sebuah ekspdisi melainkan hanya sekedar bermain. Ketika semuanya tak tersusun secara rapi atau hanya sekedar kepuasan tersendiri maka kita terlalu picik memendam semua ilmu yang kita miliki sendiri, dan hanya akan menjadi sebuah cerita tanpa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan orang banyak. Jelas dikatakan oleh Ua bahwa bahwa ekspedisi harus mempunyai sebuah tujuan atau sebuah manajeman dan konsep yang bisa dipegang baik dari segi keilmuan, catatan waktu perjalanan dan sebagainya, kemudian itu bisa menghasilkan sesuatu seperti data dan informasi atau juga dari keilmuan. Perasaan kami waktu itu campur aduk, yang jelas rasa senang lebih dominan. Kami sudah berhasil melakukan pendakian gunung di empat pulau, ingin terus melakukan pendakian atau sebuah ekspedisi yang lebih khas atau bahkan trend baru dalam pendakian. Namun sesudahnya, ya kami berpikir lagi. Ekspedisi baru? Apa berarti akan ada kebutuhan anggaran baru? Karena sebagaimana diketahui, seorang pendaki gunung harus mempunyai dana mencukupi dalam melakukan pendakian, baik itu untuk logistik peralatan dan logistik makanan sampai penginapan. Tapi apakah kemudian hasilnya sebanding dengan apa yang bisa dibawa pulang? Pertanyaan-pertanyaan itu begitu menggugah, ketika kami berangkat dari sebuah organisasi kecil dengan beberapa anggota-angota mahasiswa perantau yang berasal dari berbagai macam daerah, namun disana ada sebuah potensi dan talenta masing-masing. Disinilah kami bisa melihat sisi lain berbagai aspek yang berbeda.

Pendakian gunung merupakan sebuah aktivitas beresiko. Sampai saat ini sudah jutaan orang berlomba-lomba memantapkan diri sebagai pendaki hebat dan ingin diakui terlebih berbagai tujuan dan alasan dari pendakian tersebut. Meskipun mendaki gunung adalah olahraga tanpa gelar juara, dan kami pun tidak mengharapkan gelar tersebut, karena bagi kami keringat yang kami keluarkan, rasa lelah yang dirasakan ketika mendaki merupakan kepuasan tersendiri dalam memperlakukan olahraga mendaki gunung ini. Namun meskipun demikian kami berusaha membuat konsep pendakian yang mengkolaborasikan antara Secience, Sport and Adventure. Dalam hal ini kami sependapat dengan Walter Bonatti pendaki hebat asal Italy yang mencetuskan speed solo climbing dan orang pertama yang mendaki gunung K2 (Korakoram) dengan 8816 m.dpl, di jajaran pegunungan Himalaya, yang merupakan gunung tertinggi kedua didunia setelah Everest, Bonatti mengungkapkan “Aku percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajari kita, dan aku percaya bahwa gunung dengan segala keindahannya dan segala hukum-hukumnya merupakan sekolah terbaik bagi manusia”. Kalau Walter Bonatti menganggap gunung adalah sekolah terbaik bagi manusia, berbeda dengan pendaki wanita pertama yang menggapai puncak everest yaitu Junko Tabai, beliau memberi berkata, “pergilah keluar, dan gunung bisa menjadi guru yang terbaik”. Ungkapan-ungkapan itu membuat kami yakin bahwa dengan mendaki gunung kita dapat belajar secara langsung lewat alam dan sekaligus mendapatkan gurunya.

Berawal dari rangkaian pemikiran tersebut, tanpa ragu tercetuslah ide untuk mendaki 14 (empat belas) puncak di pulau Jawa pada tahun 2007. dengan mengkolaborasikan antara pendakian, olahraga, petualangan dan keilmuan. Kami menyelesaikan ke-14 puncak tersebut dalam waktu 17 (tujuh belas) hari. Pada prosesnya kami mendapatkan banyak pengalaman berharga termasuk masalah manajemen dan konsep ekspedisi, bagaimana membuat tim nyaman, bagaimana mengatur porsi latihan, bagaimana mempersiapkan fisik dan mental anggota tim, pembuatan konsep pendakian, sampai ke masalah pencarian dana dan bagaimana caranya agar kegiatan tersebut berhasil terwujud, karena bagi kami organisasi yang ruang lingkupnya hanya di tingkat fakultas, membuat kegiatan yang seperti ini lumayan sulit baik dari ijin kampus maupun pendanaan.

Kemudian ekspedisi berikutnya yang diniatkan sebagai upaya perbaikan manajemen juga prestasi adalah Ekspedisi 14 Puncak 14 Hari pada tahun 2008. Gunung-gunung yang dipilih adalah gunung yang memiliki ketinggian di atas 3.000 m.dpl. Dimulai dengan mendaki Gunung Pangrango di Jawa Barat dan berakhir di Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Mulai dari sana kita mempertahan kan konsep pendakian maraton 14 puncak gunung ketinggian 3.000 m.dpl. mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang kecil, namun bagi kami bisa melakukan pendakian ini adalah sesuatu yang sangat berharga.

Untuk semakin mempopulerkan Pendakian Maraton gunung-gunung berketinggian di atas 3000 mdpl, kami kembali mengesahkan ide Ekspedisi 14 Puncak 10 Hari dengan memulai pendakian dari Gunung Rinjani di Lombok dan diakhiri di Gunung Pangrango di Jawa Barat. Konsep dan manajemen pendakian hampir sama dengan pendakian pada tahun 2008, namun titik start dan finishnya di balik, serta waktu pendakian lebih dipercepat, dan yang terakhir tahun 2014 kami kembali lagi untuk kesekian kalinya dengan nama Ekspedisi Ultra Maraton, dengan manajemen dan sistem yang dengan ekspedisi sebelumnya, namun yang berbeda adalah kami berusaha memangkas waktu pendakian di tiap pergunungnya. Kemudian hal yang dipertahankan dalam ekspedisi 14 puncak selama ini adalah tim pendaki harus mencapai ke 14 puncak tersebut.